Sastra Yang Menggelora

Sastra Yg Menggelora

Ajarilah anakmu sastra, supaya pengecut jadi `pemberani”. Sesederhana itulah Umar bin Khattab member nasehat – singkat, tegas dan bergelora. Sastra itu pesan yang singkat tapi narasinya bias jadi sangatlah panjang sehingga menyita ratusan lembar halaman untuk ditumpahkan. Sastra itu tegas, karena kelurusannya tidak bias bersekutu dengan uang atau penguasa. Selain itu, ia punya gelora. Hal yang mampu membakar jiwa-jiwa untuk berteriak lantang dalam waktu yang lama.

Sastra adalah pesan yang penuh gelora. Tapi ia tidak pernah memaksa siapa saja untuk menyetujuinya. Seperti saat anak-anak kecil zaman dahulu di pantai barat Sumatera. Mereka penasaran dengan keberadaan batu yang aneh bentuknya. Mirip orang takut yang sujud kepada Tuhannya. Lalu para anak bertanya kepada ibu mereka tentang batu di tepi pantai yang bentuknya menyulut tandatanya. Para ibu mulai kebingungan mencari cara untuk menundukkan rasa penasaran anak-anaknya. Sastra pun turun dari langitnya membisiki telinga para ibunda, lalu terciptalah kisah Malin Kundang yang melegenda. Seusai mendapatkan jawaban berupa cerita, sang anak pun tanpa terpaksa langsung terhipnotis jiwanya. Dengan sukarela, hatinya menyimpulkan bahwa berbakti kepada ibunda adalah pilihan yang paling ikhlas untuk dilaluinya.

Sastra yang bergelora pernah memahat sejarah di Istana Heraklius (Konstantinopel). Saat bertahun-tahun kisah kisah kepahlawanan yang bergelora dibisikkan Syeikh Aaq Syamsudin ketelinga Sultan Muhammad II dari kecil hingga usia 22. Maka sang Sultan Muda pun hatinya menggelora. Semangatnya berkobar menyala-nyala. Berjanji menuntaskan serangkaian kegagalan beberapa pendahulunya untuk membebaskan kota di seberang laut yang tak begitu jauh dipandang mata. Tapi ia begitu angkuh karena keangkeran tembok pembatasnya. 48 hari orasi lantangnya tak pernah padam mengobarkan keberanian pasukannya. Dia adalah satu-satunya manusia yang memerintahkan pasukan untuk membawa 70 kapal menaiki gunung-gunung terjal. Lalu serombongan kapal yang tak masuk akal itu pun berubah menjadi tanda kemenangan yang tiba-tiba. Begitulah sastra membisikkan telinga manusia sehingga mampu menaklukkan kota tempat bertemunya Asia dan Eropa.

Sastra adalah pesan singkat para kyai yang tertulis dalam Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945 saat Surabaya disatroni NICA. Lalu 18 hari kemudian, ia menjelma menjadi orasi lantang Bung Tomo yang baru berusia 25. Akhirnya, kobaran lantang apinya menyulut nyali santri-santri Surabaya untuk berhamburan bersatu padu mempertahankan kemerdekaan tanah kelahirannya. Inggris pun kehilangan salah satu jendral kesayangannya. Kisah itu pun sampai kini masih menggelora baik di Surabaya ataupun dalam ingatan kita semua.

Begitulah cara kerja sastra. Ia menyampaikan pesan singkat yang kadang dibalut oleh panjangnya cerita. Lalu ketegasannya cukup mudah untuk dipahami siapa saja. Dan unsur yang paling penting adalah bahwa ia mampu menjadi wabah yang paling cepat dalam menyebarkan gelora.

#Santosa

Be the first to comment on "Sastra Yang Menggelora"

Leave a comment

Your email address will not be published.

*