Manusia, Peradaban, dan Fitrahnya

peradaban manusia

Hidup berpindah pindah adalah gaya hidup manusia di era nomaden. Hidup berpindah pindah seperti itu memiliki dua tujuan utama. Pertama, dengan berpindah mereka menghindarkan diri dari bahaya di mangsa oleh makhluk lain. Kedua, mereka berpindah pindah karena tempat yang mereka singgahi sudah mulai kehabisan sumber makanan. Gaya hidup berpindah pindah seperti ini ternyata hanya cocok untuk kaum laki laki. Para perempuan yang kelelahan dengan gaya hidup seperti ini mulai mengeluhkan kegalauannya kepada para suami mereka. Akhirnya para manusia tersebut mulai melakukan gaya hidup dengan cara menetap di suatu tempat.

Namun demikian, mereka dituntut menyelesaikan konsekuensi dari pilihan mereka untuk hidup menetap di suatu tempat. Karena pastilah banyak makhluk lain yang mengintai dan siap memangsa mereka. Akhirnya, ide untuk membuat tembok tembok pelindung muncul karena tuntutan menjaga keselamatan diri dan anggota keluarga. Maka mulailah manusia mengenal konsep rumah yang memiliki fungsi sebagai tempat berlindung. Satu demi satu konsep tersebut banyak ditiru sehingga mulai terbentuklah sebuah kerumunan masyarakat ber-rumah yang menyinggahi tempat tempat tertentu. Kosekuensi kedua dari pilihan hidup menetap di suatu tempat adalah bahwa semakin lama sumber makanan baik dari jenis hewan atau tumbuhan pun mulai menipis ketersediannya. Maka dari itu, mereka dituntut berpikir bagaimana membuat sumber makanan itu senantiasa dekat dengan tempat mereka singgah. Akhirnya, ide tentang bercocok tanam dan beternak muncul di benak mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka sehari hari. Pada titik ini manusia mulai berpindah dari gaya hidup nomaden menuju era agraria.

Bercocok tanam dan memelihara ternak ternyata memiliki banyak persoalan. Mulai dari aktifitas yang sangat melelahkan, waktu tunggu untuk menuai hasil yang kelamaan, dan hasilnya pun tidak lama kemudian cepat habis dimakan. Di sini muncul permasalahan. Lalu para manusia pun mulai melakukan kegiatan bercocok tanam dalam skala yang lebih besar, dengan harapan hasilnya bisa dimakan dalam waktu yang lebih panjang. Tapi ternyata tenaga mereka tidak kuat untuk mewujudkan itu harapan. Maka tercetuslah pikiran untuk meminta bantuan para binatang untuk menggarap sawah yang sangat luas untuk dicocok tanam. Berbagai jenis alat pun tercipta untuk memudahkan pekerjaan mereka yang bernama pertanian. Mulai dari cangkul, bajak, garu dan lain sebagainya. Alat bantu yang mereka gunakan ternyata tidak berhenti hanya untuk sektor pertanian. Tapi mereka juga ingin mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan aktifitas lain di berbagai bidang. Lalu mereka juga menciptakan alat alat untuk memudahkan dalam membuat pakaian atau perabot rumahan. Dengan semakin pandainya manusia membuat peralatan, akhirnya mereka pun semakin ketagihan, karena dengan bekerja khusus membuat peralatan saja mereka mampu mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia akan peralatan mengalami peningkatan. Tangan manusia tak lagi mampu menjawab banyaknya permintaan pasokan. Menggunakan tenaga binatang pun tak lagi mungkin dilakukan karena rumitnya pekerjaan pembuatan peralatan sehingga agak sulit untuk diajarkan. Akhirnya para manusia pun terpikir untuk membuat alat yang untuk membantu kecepatan manusia dalam memproduksi barang barangnya. Akhirnya manusia mulai menemukan teknologi. Di sini lah manusia mulai berpindah dari zaman agrarian menuju era industri.

Dan sekarang kita berada era informasi dan komunikasi. Generasi paling baru yang sudah memiliki pemikiran matang adalah mereka yang lahir 1990an. Mereka lah penghuni asli era informasi. Usia mereka sudah cukup dewasa untuk diajak bicara tentang apa saja. Ketika mereka ditanya tentang apa keinginan terbesar dalam hidupnya, memang mereka memiliki jawaban dengan berbagai versi kata kata. Namun ketika seluruh jawaban itu dirangkum, ternyata keinginan terbesar dalam hidup mereka hanya terbagi menjadi dua yaitu, memiliki rumah yang nyaman dan memiliki keluarga yang bahagia. Sungguh sederhana sekali keinginan mereka. Namun, ketika kita lihat lebih seksama, apabila orang memiliki sebuah keinginan besar terhadap sesuatu itu artinya mereka memang sedang tidak memilikinya. Dengan kata lain, para manusia muda yang lahir dari generasi baru itu ternyata tidak memiliki rumah yang nyaman dan keluarga yang bahagia. Bisa jadi mereka memiliki rumah tapi tidak menciptakan rasa nyaman. Bisa jadi mereka memiliki keluarga tapi tidak mampu menghadirkan kebahagiaan.

Jika kita mundur sejenak tentang bagaimana manusia generasi baru itu dibesarkan, maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa mereka dibesarkan oleh orang tua yang hidup di era industri. Salah satu ciri kehidupan di era industri adalah bahwa kita harus menambah jam kerja menjadi lebih panjang jika kita ingin mendapatkan penghasilan tambahan. Penghasilan tambahan pun diharapkan menciptakan kesejahteraan. Tapi ternyata ia tidak serta merta menciptakan kebahagiaan. Karena jam kerja yang panjang mengakibatkan semakin pendeknya waktu untuk membersamai anak anaknya. Makanan sehat dan tempat tinggal yang enak ternyata tidak mendatangkan rasa bahagia. Tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Hal yang lebih mengagetkan ternyata adalah  apabila kita membandingkan ‘keinginan terbesar’ manusia manusia baru itu ternyata sama persis dengan keinginan yang dimiliki oleh orang orang di zaman pra sejarah (nomaden). “Rumah yang nyaman” karena melindungi dari para pemangsa dan “keluarga yang bahagia” karena banyak menghabiskan waktu untuk bercengkerama. Ketika kita bertanya MENGAPA bisa sama? Maka sungguh jawabannya adalah sangat sederhana. Keinginan yang sama tersebut mencerminkan FITRAH hakiki manusia. Artinya, di tempat apapun dan di waktu kapan pun, manusia memang tidak bisa lari dari FITRAHnya yaitu membutuhkan adanya KENYAMANAN yang mampu menghadirkan KEBAHAGIAAN.

By Mutaat

Be the first to comment on "Manusia, Peradaban, dan Fitrahnya"

Leave a comment

Your email address will not be published.

*