Tentang Cinta

cinta

Artinya kerap kali ditanyakan. Maknanya kerap kali ditafsirkan. Sejarah berulang kali menceritakan. Tentang kesalahpahaman orang orang saat mereka menganggap bahwa cinta itu bisa dijelaskan.

Mulut kerap kali lancang mengucapkan kata cinta. Padahal ia bukanlah yang paling berwenang mengutarakannya. Karena cinta adalah reputasi hati. Yang harus ditempa dan diuji. Dengan cara melewati jalan panjang yang sunyi. Memahat pekerjaan yang panjang bernama pengorbanan sejati. Setelah sekian lama melakukan perbuatan bernama memberi, barulah kata cinta itu layak diakui.

Cinta memiliki sifat yang sama di setiap lembaran zaman. Ia selalu tak pernah berhenti menumbuhkan. Membuat mereka yang sakit menemui kesembuhan, membuat mereka yang bodoh bersemangat menjemput kepandaian. Membuat mereka yang takut mulai menyemai keberanian. Membuat mereka yang lemah menemukan jimat kekuatan. Membuat mereka yang putus asa meretas secercah harapan. Sebab cinta selalu memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas seseorang saat berpacu dengan butir putir pasir waktu yang sedikit demi sedikit menghilang.

Namun harus diakui bahwa cinta membutuhkan pesona. Karena pesona pribadi seseorang adalah yang paling sering menyulut api cinta. Dan pesona hati seseorang lah yang menjaga nyala api cinta itu berkobar dalam waktu yang lama. Bisa jadi karena seuntai pesona orang menjadi jatuh cinta. Bisa jadi karena cinta, sesuatu yang sederhana bisa tampak begitu mempesona. Yang jelas sampai sekarang hubungan antara cinta dan pesona masih baik baik saja.

Cinta itu makhluk abstract yang tak bisa digenggam oleh kuatnya kekuasaan. Ia juga berbeda dengan benda lain yang tak bisa dibeli dengan kekayaan. Ia punya catatan panjang dalam mengecewakan kekuasaan raja raja yang terlalu percaya diri bahwa bisa menaklukan cinta. Ia juga berulang kali menaklukan saudagar yang kepedean bahwa hartanya mampu menggadaikan hartanya demi cinta, dan ternyata sia sia.

Singkatnya, cinta jangan pernah diterjemahkan dalam kata karena kata terlalu rendah derajatnya untuk mendapat kehormatan menerjemahkan ruh cinta yang terlalu mulia. Cinta juga tidak pernah menugaskan mulut untuk menyampaikan berita kedatangannya, karena mulut terlalu banyak dilumuti sisa sisa kebohongan. Cinta harus dating bersama pesona raga, hati atau jiwa. Terakhir, dalam kamus cinta, kekuasaan dan kekayaan memang tidak ditakdirkan untuk menaklukannya.

Be the first to comment on "Tentang Cinta"

Leave a comment

Your email address will not be published.

*