Kebahagiaan

kebahagiaan

Jika memiliki paras menawan mampu menghadirkan kebahagiaan, tentu Marlyn Monroe tak perlu mati kesepian. Jikalau ketenaran mampu menyemai kebahagiaan tentu Kurt Cobain tak perlu menembak kepalanya sendirian. Kalau menjadi kaya raya mampu menumbuhkan kebahagiaan, tentu Michael Jackson tak akan mati karena over dosis penyalahgunaan obat obatan terlarang. Jika saja kekuasaan bisa melahirkan kebahagiaan, tentu Hitler tak perlu bunuh diri di tempat persembunyian. Jika bahagia itu diartikan memiliki pasangan yang kaya, terhormat dan mempesona tentu Pangeran Charles tak perlu bercerai dengan Lady Diana. Begitulah potongan zaman mengabarkan kita tentang ketidakbahagiaan orang orang yang pernah singgah di bumi ini.

Waktu memberi kita banyak catatan, tentang kegagalan manusia manusia hebat menggapai puncak kenikmatan hidup yang sering kita beri nama kebahagiaan. Wajah, harta, pangkat, kekuasaan, martabat dan beberapa elemen fana lainnya tak bisa memiliki dampak langsung terhadap kebahagiaan. Karena banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebahagiaan adalah peristiwa hati yang terjadi di alam jiwa manusia. Maka dari itu, memanjakan mata, mulut, perut dan kelamin bukanlah syarat datangnya kebahagiaan yang hakiki.

Semakin pintarnya para ilmuwan di muka bumi ini sekarang sudah mulai menyadari bahwa kebahagiaan perlu diukur, karena semua elemen hidup akan terasa tak berguna tanpa adanya kebahagiaan.  Dan ternyata hasil dari kerja para professor dalam mengukur kebahagiaan yang mulai dilakukan 3 tahun silam  adalah sangat mengejutkan. Bangsa Indonesia adalah bangsa paling bahagia nomor 14. Malaysia yang selalu dibandingkan dengan kita tentang bagaimana mereka menyalip kita dalam hal pembangunan dan pendidikan ternyata hanya berada di posisi 84 dalam hal kebahagiaan. Singapura yang selalu membuat kita iri dalam hal kedisiplinan dan ekonomi ternyata kebahagiaan yang mereka miliki hanya di posisi 90 di dunia. Amerika Serikat yang memiliki tentara paling kuat ternyata berada di peringkat 105 dalam urusan bahagia. Negara seindah Perancis hanya berada di posisi 50, Inggris 41 dan Jerman 46. Negara yang paling bahagia di dunia jatuh kepada Costa Rica. Dari segi kekuatan ekonomi, kualitas peradaban, tingkat pendidikan, kemajuan teknologi, dan kekuatan angkatan perang sebuah bangsa, ternyata bahagia belum juga bisa ditentukan. Di Indonesia sendiri, Riau menjadi Provinsi yang paling bahagia mengalahkan DKI Jakarta. Maluku lebih bahagia daripada Semarang dan Kalimantan Utara lebih bahagia dari orang Surabaya.

Jika dilihat dari jenis pekerjaan ternyata orang nganggur lebih bahagia daripada CEO perusahaan ternama, petani tembakau lebih bahagia daripada PNS yang paling tinggi pangkat dan golongannya. Lalu apa yang dapat membuat kita bahagia?

Ada peneletian lain yang mengukur antara penghasilan dan kebahagiaan. Apabila penghasilan kita bertambah dari 5 juta menjadi 10 juta, ternyata kebahagiaan kita bertambah pula. Apabila pendapatan kita bertambah lagi menjadi 15 juta, ternyata kebahagiaan kita bertambah lagi. Jika pendapatana kita menjadi 20 juta, kebahagiaan kita juga bertambah. Namun, pada titik angka tertentu, terus bertambahnya penghasilan ternyata tidak lagi menambah kebahagiaan, levelnya menjadi stagnan atau malah bisa berkurang. Titik itu diberi nama Income Threshold di mana uang dalam jumlah tertentu sudah tidak lagi mampu mendongkrak kebahagiaanmu

Untuk mencari tahu cara tentang menghadirkan bahagia, ada baiknya kita berjalan keliling dunia untuk bertanya kepada orang orang bahagia dan meminta nasehat nasehatnya. Dr. Taufiq Pasiak, Kepala Devisi Neurosains/ Neuroanatomi Departemen Anatomi-Histologi, Fakultas UNiversitas Sam Ratulangi Manado, mengatakan bahwa terdapat hubungan sangat erat antara kebahagiaan, spiritualitas dan otak. Bangsa yang rajin bergotong royong dan silaturahmi ternyata terbukti lebih bahagia daripada bangsa yang individualis. Bersyukur ternyata juga dapat meningkatkan kebahagiaan sebesar 10%.

Sang Budha juga pernah mengatakan bahwa “Kebahagiaan tidak tergantung kepada apa yang kamu punya atau siapa dirimu, tapi apa yang kau pikirkan”. John  Milton juga mengatakan bahwa pikiran lah yang membuat surga yang kita pijak berasa neraka bisa juga neraka yang kita tempati tapi beraroma surga. Maka dari itu mengendalikan pikiran itu sangatlah penting karena ia bisa mengendalikan suasana hati kita supaya bisa menghadap sebuah kiblat yang kita sebut bahagia.

Be the first to comment on "Kebahagiaan"

Leave a comment

Your email address will not be published.

*